Sejak kecil lagi, fikiran kita telah disuntik oleh idea "solat
berjemaah itu sunat". Dan kita pun solat di rumah karena ianya tidak
wajib. Bagaimana jika suatu hari, kita didatangkan dengan perkhabaran
bahwa "solat berjemaah di masjid itu wajib bagi lelaki" (disertai
dalil-dalil sahih atau kalau malas nak cari, google sahaja "kewajiban
solat berjemaah"). Adakah kita akan dengar dan taat?
Sejak
dahulu lagi, kita dibesarkan dengan idea "menyimpan janggut itu sunat".
Bila kita besar, kita cukur janggut kita karena ianya tidak wajib
disimpan dan agar kelihatan kacak. Bagaimana jika suatu hari, kita
diberitahu bahwa "menyimpan janggut adalah wajib" (dan disepakati oleh
SEMUA imam mazhab). Adakah kita akan dengar dan taat?
Bagaimana
jika baaaaanyak lagi perkara-perkara lain dalam kehidupan ini yang kita
yakini sunat selama ini, ternyata adalah wajib? Bahkan dalil-dalilnya
cukup sahih dan jelas. Adakah kita tetap dengan pendirian bahwa itu
semua sunat? Tak mengapa jika tidak dilaksanakan?
Nabi
kita berbangsa arab, bertutur dalam bahasa arab. Al-Quran kita
berbahasa arab. Dan sekalipun ada masyarakat yang benar-benar faham
mengenai bahasa hadith dan al-Quran, sudah pasti masyarakat arab
sendiri.
Para sahabat terlalu ramai yang bertebaran di
muka bumi untuk menyampaikan syiar Islam, seperti banyaknya
bintang-bintang di langit. Tapi, masih banyak juga para sahabat yang
tetap berada di kota suci Mekah dan Madinah menyambung dakwah nabi kita.
Sabahat
yang berdakwah di luar kota itu, adakah kita yakin bahwa apa yang
disampaikannya pada hari itu... akan kekal 100% tanpa sedikit pun
berubah sekalipun telah 1000 tahun berlalu? Tidak, pasti akan ada
percampuran budaya agama lain seperti hindu, nasrani dsb. Lihatlah
sendiri di sekeliling kita..
Berbanding dengan sahabat
di dalam kota, dakwahnya masih utuh karena sekalipun ada yang terlupa
akan sesuatu, masih ramai sahabat lain ada untuk mengingatkannya. Dan
ajaran yang disampai oleh nabi kita diturunkan langsung dari seorang
guru ke anak muridnya, ke anak muridnya dan seterusnya.
Jadi
apabila berhadapan dengan suatu perselisihan pendapat mengenai agama,
siapakah yang terbaik untuk kita dapatkan rujukan? Adakah turun-temurun
nenek moyang kita yang sudah pasti bukan ajaran murni Islam karena
terdapat percampuran budaya agama lain? Atau pendapat mereka yang
benar-benar memahami bahasa hadith dan al-Quran?
Sekalipun
ada para ustaz yang belajar dari Mesir, Jordan dsb, jika pun mereka
mendengar akan hadith-hadith nabi, adakah mereka 100% taat? Atau mereka
mengubah maksud hadith nabi itu demi kepentingan mereka?
Berapa ramai ustaz yang pada hari ini, bila diperdengarkan suatu hadith, mereka berkata...
"itu bukan yang nabi maksudkan"
"saya RASA, yang nabi maksudkan adalah..."
now
what? mereka lebih faham daripada nabi sendiri? Dalam isu bergambar
contohnya, jika di arab mereka semua (mufti dan para ulama') sepakat
menyatakan bahwa mengambil gambar (hidupan sprt manusia dan haiwan)
adalah haram kerana ia menyanggahi hadith nabi yang bermaksud..
Diriwayatkan oleh imam Muslim, Sabda Nabi berbunyi,
"Sesungguhnya orang yang paling berat siksaannya nanti di hari khiamat ialah orang-orang yang menggambar"
..namun bila hadith itu masuk ke negara kita, para ustaz mengeluarkan pendapat "
oh,
itu kesalahan bahasa orang arab. Yang nabi maksudkan adalah melukis
potret. Bukan mengambil gambar. Dalam bahasa arab, kata dasar untuk
perkataan kamera adalah gambar. Jadi bukanlah gambar yang sebenarnya.
Lagipun kita bukan meniru ciptaan Allah, tindakan kita hanya menekan
punat kamera, dan gambar yang terhasil adalah akibat tindak balas antara
cahaya dan mekanisme kamera itu sendiri" dan byk lagi jawapan ilmiah lain yang meyakinkan..
Pendapat
yang diberikan adalah bagi membenarkan tindakan mereka, agar mereka
diterima oleh masyarakat. Cuba kalau mereka bersetuju akan pengharaman
gambar, menyatakan bahwa mengambil gambar itu haram, agaknya bagaimana
reaksi masyarakat? Sudah pasti dia akan dicerca masyarakat..
Pun
begitu, sudah menjadi norma masyarakat kita yang sopan dan santun,
tidak mahu perpecahan.. maka bila datangnya perkara seperti itu, jawapan
mudahnya adalah "
perkara ini merupakan perselisihan pendapat" seolah-olah mereka mengatakan "
tak mengapa, sila la buat yang mana kita suka"
Jadi kalau rasa itu perbezaan pendapat, maka tak perlu la ada tegang urat nak berdebat bagai, kan? Terimalah pendapatnya jika jelas tidak menyanggahi Allah dan Rasul-Nya.. tak gitu?
Allahua'lam